Peringati Harkitnas Lembaga Peduli Nusantara (LPN) Gelar Dialog Kebangsaan Bertema "Menakar Kaum Pemuda dan Milenial Terhadap Sejarah Kebangkitan Bangsa"

Jakarta- pedulinusantaranews.com,- Dalam rangka memperingati hari kebangkitan bangsa (HARKITNAS) Lembaga Peduli Nusantara (LPN) gelar dialog kebangsaan yang bertema Menakar Kaum Pemuda dan Milenial Terhadap Sejarah Kebangkitan Bangsa, dialog kebangsaan ini digelar di kantor PKP POMAD dijalan Jamrud Kenari Jakarta Pusat pada Senin (23/05/22)

Acara dialog ini berawal dari rasa keprihatinan beberapa tokoh pergerakan kebangsaan yang merasa sebagian besar kaum pemuda dan milenial tidak lagi mengerti sejarah bangsanya sendiri dan semakin tergerusnya rasa nasionalisme di jiwa para pemuda Indonesia.

Hadir dalam dialog Arthur Noija SH sebagai Ketua Umum LPN, Jend Purn. Bernhard Limbong S.Sos, SH. MH, Kepala Kesbangpol DKI Taufan Bakri Msi serta Ketua Umun Serikat Pemersatu Seniman Indonesia Benny Ashar.

Acara Yang di moderatori oeh Santo Nainggolan SH berjalan lancar sesuai program yang direncanakan dan dalam kesempatan pertama Jend Purn. Bernhard Limbong S.Sos, SH. MH, mendapat kesempatan untuk memberikan pemaparan terkait arti Kebangkitan bangsa serta  semakin tergerusnya sejarah kebangkitan bangsa pada kaum pemuda dan milenial serta tidak adanya filterisasi sehingga mengakibatkan ketidak pahaman sejarah bangsa.

Dalam kesempatan dialog ini Jend Purn. Bernhard Limbong S.Sos, SH. MH, mengatakan bahwa 20 mei 1908 atau yang lebih dikenal dengan Budi Oetomo merupakan tonggak sejarah bangsa tentang kebangkitan untuk lepas dari penjajahan dan budi oetomo merupakan organisasi pemuda pribumi pertama di indonesia.

Terkait Tergerusnya sejarah kebangkitan bangsa pada kaum pemuda dan milenial serta tidak adanya filterisasi sehingga mengakibatkan ketidak pahaman sejarah bangsa. Jend Purn. Bernhard Limbong S.Sos, SH. MH lebih menyoroti kepada perlunya mengenalkan kembali para pejuang-pejuang kemerdekaan (Jasmerah),  mengenalkan kembali budaya serta adat istiadat yang merupakan jatidiri bangsa Indonesia.

“Kita harus menceritakan kembali sejarah bangsa ini kepada para pemuda khususnya para milenial agar mereka kembali memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan hal ini bisa dimulai dari keluarga dan tentunya juga kepada masyarakat” kata Jend Purn. Bernhard Limbong S.Sos, SH. MH

Hal berbeda juga disampaikan Kepala Kesbangpol DKI Taufan Bakri Msi yang lebih menyoroti kepada hilangnya jatidiri bangsa pada kaum pemuda dan milenial disebabkan tidak adanya filterisasi terhadap budaya yang masuk dari luar sehingga semakin hari budaya asli bangsa ini semakin tergerus yang mengakibatkan para milenial tidak lagi mengerti sejarah akan bangsanya.

“Masa kecil saya yang saya tonton adalah film Unyil yang asli produksi Indonesia namun sekarang anak-anak usia dini juga sudah disuguhkan film dari negara lain seperti Upin dan Ipin serta film-film lainya hal inilah yang merupakan salah satu penyebab tergerusnya rasa nasionalisme dikalangan pemuda dan milenial” kata Kepala Kesbangpol DKI Taufan Bakri Msi

Lebih dari itu Kepala Kesbangpol DKI Taufan Bakri Msi berharap kepada Lembaga Peduli Nusantara dan yang lainya untuk lebih sering mengadakan perlombaan perlombaan terkait seni dan budaya asli Indonesia agar para pemuda dan milenial kembali bisa menganali seni dan budaya bangsanya, dan sebagai Kepala Kesbangpol DKI dirinya siap menjembatani kepada pihak pihak terkait bila hal itu di butuhkan, tegas Taufan Bakri Msi.

Arthur Noija SH Ketua Umum Lembaga Peduli Nusantara dalam dialog mengatakan pentinya kembali menghidupkan kearifan lokal kepada para pemuda dan milenial karena kearifan lokal akan menjadi filterisasi budaya asing yang akan masuk ke negara kita. karena kearifan lokal adalah nilai-nilai, norma, hukum-hukum dan pengetahuan yang dibentuk oleh ajaran agama, kepercayaan-kepercayaan, tata nilai tradisional dan pengalaman-pengalaman yang diwariskan oleh leluhur yang akhirnya membentuk sistem pengetahuan lokal yang digunakan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan sehari-hari oleh masyarakat.

Kearifan lokal juga dapat didefinisikan sebagai nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau bijaksana.

“Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan, kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat.” jelas Arthur Noija SH

Selain itu Arthur Noija SH juga menyampaikan pentingnya meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) melalui pendidikan, menghidupkan kembali permainan tradisional dikalangan anak-anak yang kesemuanya akan dapat membangkitkan kembali rasa cinta tanah air bagi para anak-anak milineal.

Dipenghujung acara Benny Ashar Ketua Umum Serikat Pemersatu seniman Indonesia memberikan pandangan yang sama yaitu perlunya kembali menghidupkan seni budaya lokal yang ada di tanah air karena bangsa ini dengan berbagai macam suku ,bahasa dan adat istiadat tentunya memiliki banyak sekali senibudaya dan disinilah peran penting seniman untuk tampil didepan sebagai garda pemersatu bangsa melalui kearifan-kearifan lokal yang ada.

“Saya setuju dengan pendapat para pembicara yang lain, dan kami dari serikat pemersatu seniman siap menjadi garda terdepan untuk mempersatukan anak bangsa melalui seni dan budaya” kata Benny Ashar.

(Hr)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama